
Foto: Mui Lab.
Teknologi.id – Di masa digital di mana banyak rumah kian diisi dengan layar yang menyala dan kamera yang memantau, sebuah startup Jepang bernama Mui Lab menawarkan alternatif menawan. Produk flagship mereka, Mui Board, telah resmi debut di CES 2026. Perangkat ini merupakan pengontrol (controller) rumah yang terlihat layaknya mebel rumahan biasa. Terbuat dari kayu asli, perangkat ini bertujuan untuk memberikan rasa tenang dan "kecerdasan tersembunyi" ke dalam tempat tinggal pengguna.
Filosofi dari "Teknologi yang Menenangkan"
Mui Board dirancang dengan konsep yang disebut "Teknologi yang Menenangkan (Calm Technology)". Filosofi ini menyarankan bahwa gadget hanya terlihat saat dibutuhkan, dan menyatu dengan lingkungan saat tidak dibutuhkan. Berukuran sekitar 58.4 x 7.6 x 2.5 cm, papan ini terlihat serupa papan kayu sederhana yang dipoles terpasang di dinding pengguna. Tersedia dalam dua pilihan warna elegan: Natural Maple dan Dark Cherry.
Saat perangkat ini dalam keadaan tidak aktif, permukaannya kosong. Tidak ada cahaya yang berkedip atau layar kaca gelap. Walaupun begitu, saat disentuh, tampilan dot-matrix LED tersembunyi bersinar menembus serat kayu. Hal ini mengizinkan pengguna untuk berinteraksi dengan rumahnya tanpa "kelalahan digital (digital fatigue)" yang biasanya disebabkan handphone atau tablet.
Mengubah Rumah dengan Sentuhan

Foto: Mui Board.
Mui Board berfungsi sebagai pusat kendali sentuh untuk kegiatan smart home pengguna. Meskipun tampilannya minimalis, perangkat kontrol ini ampuh dan dapat terhubung ke berbagai perangkat rumahan. Pengguna dapat menggunakan sentuhan dan gerakan tangan sederhana untuk mengatur lingkungannya:
Keuntungan besar model ini adalah dukungannya terhadap protokol Matter. Hal ini menjamin Mui Board dapat "berbincang" dengan hampir semua perangkat pintar, baik dari Apple, Google, atau Amazon, tanpa terbatas di satu brand saja.
Pengawasan Kesehatan Privacy-First dengan Radar mmWave
Apa yang membedakan Mui Board yang sekarang adalah upgrade-nya dari model awalnya di CES 2019, yaitu pengintegrasian radar gelombang milimeter (mmWave). Ini merupakan kemajuan besar dalam teknologi kesehatan. Tidak seperti sleep tracker tradisional yang mengharuskan pengguna untuk memakai smartwatch atau cincin, Mui Board menawarkan pengalaman contactless sepenuhnya.
Sensor mmWave bekerja dengan memancarkan gelombang radio berfrekuensi tinggi yang dapat mendeteksi pergerakan kecil, seperti naik turunnya dada pengguna saat bernapas. Hal ini mengizinkan Mui Board untuk melacak detak jantung, pola pernapasan, dan postur tidur semalaman. Karena menggunakan radar dan bukan kamera, perangkat ini tidak "melihat" ruangan atau tubuh pengguna, namun hanya mencatat pola bergerak, menjadikannya pilihan tepat untuk kamar, di mana privasi merupakan hal terpenting.
Air Gesture dan Interaksi Menyenangkan
Selain sleep tracking, teknologi radarnya mengizinkan Air Gesture atau gerakan tanpa sentuh, sehingga dapat memberikan kendali "hands-free" dengan melambaikan tangan di depan papan untuk mematikan lampu atau menunda alarm. Fitur ini bukan hanya futuristik, tetapi juga sangat berguna untuk orang dengan mobilitas terbatas atau saat pengguna kesulitan menemukan tombol "matikan" di kegelapan.
Untuk mencegah perangkat ini terasa terlalu "robotik", Mui Lab menambahkan fitur menyenangkan seperti animasi tersembunyi, contohnya kucing digital kecil yang berjalan di atas permukaan kayu, dan mode "instrumen" yang mengubah papannya menjadi piano virtual atau set drum. Detail ini yang menjadikan teknologi nya terasa lebih manusiawi dan tidak seperti mesin berdarah dingin.
Desain Premium dan Harga
Mui Board merupakan produk khusus yang dirancang untuk orang yang menghargai estetika interior. Saat ini memiliki harga $999 (sekitar Rp 16,7 juta). Walau memiliki speaker dan mikrofon untuk input suara atau merekam pesan, perangkat ini tidak bertujuan untuk menjadi "speaker cerdas". Melainkan, perangkat ini dapat digunakan sebagai interface cantik yang melengkapi pengaturan smart home pengguna. Papan ini merupakan "seni fungsional" yang membuktikan kalau kita tidak membutuhkan lebih banyak layar dalam hidup kita untuk tetap terhubung.
Baca Berita dan Artikel yang lain di .
(yna/sa)